Langsung ke konten utama

Catatan Perjalanan 1: Untuk Merayakan Hari Perempuan Sedunia!



Manusia jika saling berbuat baik, aku rasa di dunia ini akan penuh dengan cinta dan kemakmuran. Perempuan- perempuan bebas untuk menaklukkan dunia dengan caranya, perempuan- perempuan akan dengan bebas berpetualang tanpa menyimpan ketakutan. Rasanya kemarin aku masih cukup takut untuk melakukan perjalanan- perjalanan panjang dengan kesendirian, namun sekarang aku percaya, bahwa sendiri bukan berarti sepi. 


Menemukan orang baru dengan kebaikan- kebaikan tak terpikirkan sebelumnya yang ternyata aku dapatkan selama di perjalanan. Bertemu dengan seorang perempuan muda di gerbong kereta yang sama dan dengan tujuan yang sama pula. Turun di waktu pukul 03.00 pagi, kami memutuskan untuk istirahat sebentar di stasiun sembari menunggu langit mulai sedikit terang. Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan masing- masing. Sebelum kami berpamitan, ia memberiku satu bungkus better jumbo, “Ini Mbak, untuk nahan laper”, katanya. 


Jalan keluar stasiun, aku kesulitan untuk mendapatkan ojek online melalui aplikasi. Kemudian ada seorang bapak- bapak menawarkan tumpangan dengan biaya cukup murah untuk menuju pasar, tempatku akan dijemput sebelum aku melanjutkan perjalanan menuju desa tujuanku. Lalu aku bertemu lagi dengan Ibu-ibu pasar yang memberikanku harga cukup murah saat aku memutuskan untuk membeli sarapan di warungnya. 


Keluar area pasar, berbincang dengan bapak- bapak parkir sekaligus diberikan beberapa wejangan untuk masa mudaku ini. Setelahnya, aku melanjutkan perjalanan terakhirku dengan menumpang angkutan pasar yakni truck. Di perjalanan aku berbincang dengan Pak Sopir bernama Pak Diro. Kami cukup banyak bertukar pendapat, dan betul beliau sepakat bahwa perempuan memang sudah sepantasnya untuk bisa merasakan aman dimanapun mereka berada. 


Aku menaiki sebuah truck yang mengangkut Ibu- ibu tangguh desa yang sejak pukul 02.00 pagi sudah berangkat meunju kota untuk menjual sayuran- sayuran dagangannya. Pak Diro bercerita, Ibu- ibu pasar ini setiap hari sejak pukul 02.00 pagi sudah stand by di depan rumahnya untuk menunggu gilirannya dijemput oleh truck merah ini, bahkan tak jarang ada juga yang menunggu sendiri di pinggir jalan karena mungkin rumahnya sulit untuk dijangkau oleh kendaraan besar. 


Perempuan-perempuan itu berjuang dengan jalannya masing-masing. Ada yang berjualan sejak dini hari dengan menunggu tumpangan di pinggir jalan gelap, ada yang bekerja sebagai buruh tani dengan bayaran yang tidak sebanding dengan kerja keras mereka. Namun, mereka tetap bertahan, tetap berjuang, dan tetap menaruh harapan di setiap langkah yang mereka ambil.

Aku melihat sendiri bagaimana perempuan-perempuan menghadapi kehidupan dengan ketangguhan luar biasa. Di ladang-ladang, kulihat mereka membungkuk memanen hasil bumi, tangan mereka kasar karena terbiasa bergelut dengan tanah. Mereka bekerja di bawah terik matahari, menggendong anak sambil tetap menaruh bibit atau memilah hasil panen. Namun, ironisnya, upah yang mereka terima jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki yang bekerja di sektor yang sama.

Ketidakadilan ini bukan cerita baru, tapi mengapa masih terus berlangsung? Aku bertanya pada seorang perempuan buruh tani yang tengah beristirahat di bawah pohon rindang. Ia hanya tersenyum, meneguk air putih dari botol plastik bekas, lalu berkata, "Mbak, kami ini hanya ingin hidup layak. Kalau bicara soal adil, mungkin itu urusan orang-orang pintar di kota. Kami di sini ya bekerja saja, yang penting anak-anak bisa makan dan sekolah."

Jawabannya menohok, sederhana namun penuh makna. Mereka tidak meminta lebih, hanya ingin hidup yang layak dan aman. Bukan hanya aman dari ketidakadilan ekonomi, tetapi juga dari ketakutan saat berjalan sendirian di malam hari, dari keraguan akan masa depan yang tak menentu.

Di perjalanan terakhirku dengan truk merah itu, aku menatap wajah-wajah perempuan yang penuh harapan meskipun tubuh mereka lelah. Aku berpikir, dunia memang masih jauh dari kata adil bagi perempuan, tetapi semangat mereka adalah bukti bahwa mereka tak pernah menyerah. Mereka tetap melangkah, meski jalannya penuh tantangan. Mereka tetap berjuang, meski dunia belum berpihak sepenuhnya kepada mereka.

Dan aku, dengan segala perjalanan yang telah kulalui, semakin yakin bahwa perempuan memang harus bebas menaklukkan dunia dengan jalannya sendiri. Karena pada akhirnya, kita semua adalah pejuang di medan masing-masing, dan kebaikan yang kita temui di sepanjang jalan adalah bukti bahwa dunia ini masih punya harapan.

Selamat Hari Perempuan Internasional! Semoga dunia semakin dapat memberikan ruang aman bagi aku, kamu dan kita semua perempuan untuk merdeka di jalannya masing- masing!


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyulam Rupa Masa Lampau: Pasar Lawas dan Wujud- Wujud Perawatan Kultural

Dalam gemerlap modernitas, manusia kerap merindukan ruang- ruang yang mampu menghadirkan kehangatan masa lampau. Ruang semacam itu tak hanya memberikan sebuah pengalaman estetis, tetapi juga menjadi titik perjumpaan identitas kolektif yang seringkali terlupakan. Kehadiran Pasar Lawas bertajuk “ Kebak Tanpa Luber” lahir dengan pemaknaan filosofis yang tak lepas dari nafas keseharian masyarakat Jawa yang penuh dengan keramaian dan rasa hangat ketika berkumpul serta menjaganya agar tetap harmoni. Ia hidup, ramai dan penuh, namun tetap pada porsinya yang damai dan terkendali. Momen ini tentu menawarkan lanskap- lanskap nostalgia, kebersamaan dan bukti keberadaan warisan budaya yang tak akan pudar ditelan zaman. Pasar Lawas tak sekadar menghadirkan kuliner dan permainan tradisional. Ia menjadi ruang sosial yang menegosiasikan ingatan kolektif dengan realitas modernitas. Di balik semaraknya pertunjukan seni, tawa anak-anak yang memainkan dolanan tradisional, hingga interaksi hangat antar-pen...

Surat untuk Jendral

Teruntuk Jendral Baskara, aku mendeklarasikan perasaanku yang sudah sedari lama jatuh padamu. Meski aku sadar dan paham bahwa pada akhirnya kecewalah yang akan aku dapatkan. Kamu pernah berkata bahwa mencintaimu adalah sebuah kesia-siaan, karena pada akhirnya tak kan mampu perasaanku ini menembus dinding pertahanan hatimu.  Kamu salah Jendral. Aku ngga merasa bahwa ini adalah sebuah kesia- siaan. Perasaan yang aku miliki adalah tanggung jawabku, begitu pula dengan perasaanmu. Aku mencintaimu, dan kamu ngga berhak untuk melarangku. Perihal balasanmu, aku pun ngga berhak untuk memaksakannya.  Pada akhirnya nanti, jika memang sama sekali tak pernah ada dirimu berniat untuk mencoba membuka hatimu untukku, tolong jangan memaksaku untuk berhenti. Berhenti berjuang atas perasaan yang sudah lama kupendam ini. Jangan pernah memaksaku untuk melupakan kamu beserta semua kenangan kita. Namun sekali ini saja, tak bisakah kamu sedikit membalas perasaan ini? Walau pun itu hanya s...