Langsung ke konten utama

Menyulam Rupa Masa Lampau: Pasar Lawas dan Wujud- Wujud Perawatan Kultural

Dalam gemerlap modernitas, manusia kerap merindukan ruang- ruang yang mampu menghadirkan kehangatan masa lampau. Ruang semacam itu tak hanya memberikan sebuah pengalaman estetis, tetapi juga menjadi titik perjumpaan identitas kolektif yang seringkali terlupakan. Kehadiran Pasar Lawas bertajuk “Kebak Tanpa Luber” lahir dengan pemaknaan filosofis yang tak lepas dari nafas keseharian masyarakat Jawa yang penuh dengan keramaian dan rasa hangat ketika berkumpul serta menjaganya agar tetap harmoni. Ia hidup, ramai dan penuh, namun tetap pada porsinya yang damai dan terkendali.

Momen ini tentu menawarkan lanskap- lanskap nostalgia, kebersamaan dan bukti keberadaan warisan budaya yang tak akan pudar ditelan zaman. Pasar Lawas tak sekadar menghadirkan kuliner dan permainan tradisional. Ia menjadi ruang sosial yang menegosiasikan ingatan kolektif dengan realitas modernitas. Di balik semaraknya pertunjukan seni, tawa anak-anak yang memainkan dolanan tradisional, hingga interaksi hangat antar-pengunjung, terdapat proses sosial yang lebih dalam yakni upaya menghidupkan kembali memori budaya agar tidak tercerabut oleh arus komodifikasi zaman. 

Aku merasakan hatiku penuh, dengan bagaimana kolektivitas menjadi energi utama dalam nyawa keberlangsungan acara. Kerja gotong royong bukan hanya sekadar strategi teknis, tetapi juga praktik solidaritas yang menghadirkan pemaknaan sosial. Solidaritas yang tercipta ini tentu menjadi sebuah elemen yang tak akan pernah bisa diukur dengan nilai material, ia hadir dalam bentuk kehangatan, rasa saling percaya, serta kepuasan ketika melihat senyum hangat dari masing- masing pengunjung yang datang meramaikan. Pelestarian yang ada kurasa memang bukan semata-mata sebagai sebuah upaya untuk melindungi benda- benda budaya, melainkan juga menjaga relasi sosial yang menyertainya.

Kemudian, refleksiku berjalan lebih lanjut dengan menyadari bahwa nostalgia yang ditawarkan Pasar Lawas bukanlah sekadar kerinduan romantis terhadap masa lalu. Ia merupakan strategi kultural untuk menghadirkan “rasa pulang”, sebuah perasaan kembali ke akar, ke memori masa kecil, ke suasana yang meneguhkan identitas diri sekaligus kolektif. Nostalgia di sini bersifat produktif: ia tidak menolak modernitas, namun justru menawarkan ruang keselarasan yang saling mengisi.

Menghadiri sekaligus mengambil bagian dari gelaran ini membuat saya merenungkan kembali peran dan posisi kita pada dalam alur kebudayaan. Apakah kita hanya menjadi konsumen warisan budaya? Ataukah kita siap menjadi subjek yang secara aktif melestarikan dan merawatnya? Kurasa, Pasar Lawas merupakan jawaban kecil atas pertanyaan itu: bahwa kita bisa memilih jalan keterlibatan, bukan sekadar penikmatan.

Pengalaman ini pada akhirnya mengajarkan bahwa pelestarian budaya bukan sesuatu yang abstrak. Ia nyata, hadir melalui tawa, makanan, permainan, dan kerja kolektif. Dan lebih dari itu, Pasar Lawas menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini—menghadirkan kehangatan yang tak bisa dibeli oleh modernisasi, serta memori yang tak tergantikan oleh gemerlap teknologi. 

Akhir dari refleksi singkat ini, kulayangkan penuh rasa cinta dan terima kasih kepada manusia- manusia yang dengan senang hati terlibat dalam kebersamaan untuk merawat ingatan kolektif, jejak tradisi, dan denyut kebudayaan yang nyaris pudar. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan 1: Untuk Merayakan Hari Perempuan Sedunia!

Manusia jika saling berbuat baik, aku rasa di dunia ini akan penuh dengan cinta dan kemakmuran. Perempuan- perempuan bebas untuk menaklukkan dunia dengan caranya, perempuan- perempuan akan dengan bebas berpetualang tanpa menyimpan ketakutan. Rasanya kemarin aku masih cukup takut untuk melakukan perjalanan- perjalanan panjang dengan kesendirian, namun sekarang aku percaya, bahwa sendiri bukan berarti sepi.  Menemukan orang baru dengan kebaikan- kebaikan tak terpikirkan sebelumnya yang ternyata aku dapatkan selama di perjalanan. Bertemu dengan seorang perempuan muda di gerbong kereta yang sama dan dengan tujuan yang sama pula. Turun di waktu pukul 03.00 pagi, kami memutuskan untuk istirahat sebentar di stasiun sembari menunggu langit mulai sedikit terang. Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan masing- masing. Sebelum kami berpamitan, ia memberiku satu bungkus better jumbo, “Ini Mbak, untuk nahan laper”, katanya.  Jalan keluar stasiun, aku kesulitan untuk mendapatkan ojek online...

Belukar Dunia

Teruntuk teman- teman yang sedang berjuang.. Kamu hebat, kakimu sudah melangkah lebih maju mempersiapkan masa depan. Terkadang dihadang kegagalan, diterpa kelelahan, dihujani rasa malas namun tak pernah sekali pun menyerah.  Lelah? Wajar. Jatuh dan terabaikan? itu adalah hal yang pasti akan datang menemani proses perjuangan. Kamu pernah mendengar lagu yang dibawakan oleh penyanyi muda bernama Chiki Fawzi yang berjudul Belukar Dunia?  Coba dengarkan, kamu resapi maknanya, maka kamu akan merasakan pelukan hangat penguat. Pelajaran yang bisa aku dapatkan dari lagu itu adalah, bahwa hidup ini tidak hanya diisi oleh hal- hal yang indah dan mengasyikkan saja. Ada namanya si pahit nan menyedihhkan yang pasti juga hadir melengkapi. Perihal sukses, itu adalah keinginan semua manusia bukan? Tentang apa yang diinginkan, apa yang dicita- citakan dan apa yang diharapkan bisa terwujud dalam kehidupan kita di waktu yang tepat.  Tapi, sebelum kita mendapatkan kenikmat...