Langsung ke konten utama

Realitas Menjadi Seorang Ibu Rumah Tangga

 



"Menjadi seorang Ibu adalah pekerjaan seumur hidup, ngga gampang, ngga ada tempat kursusnya juga. Ibu juga masih harus selalu belajar. Terus tumbuh dan berproses bersama dengan anak- anaknya. Jadi maafkan yaa, kalau Ibu kadang masing ada kurangnya," kata Ibuku. Iya, tulisan ini lahir karena beliau. Setiap hari, tiada kata bosan aku menganguminya. Sudah duapuluh tahun ini, dan pasti akan selama-lamanya, rasanya kagumku ngga akan pernah berkurang. 


Menjadi seorang Ibu rumah tangga acap kali dipandang sebelah mata. Pekerjaan ini masih sering dianggap sebagai pekerjaan yang enak dan sepele sebab tidak menghasilkan keuntungan secara ekonomi. Ibu rumah tangga juga sering dicap sebagai sosok perempuan dengan pendidikan rendah dan minim pengetahuan karena memilih untuk tidak bekerja di sektor publik maupun swasta. Padahal pada realitasnya, justru pekerjaan ini adalah pekerjaan 24 jam non stop yang tentu tak hanya menguras pikiran tetapi juga tenaga.

Pagi hari seorang Ibu rumah tangga tentu harus bangun lebih awal untuk mengurus keperluan serta membangunkan anggota keluarga yang lain. Seperti yang Ibu saya setiap hari kerjakan, beliau bangun sebelum subuh, memasak air juga bersiap diri untuk melaksanakan shalat. Selepas selesai shalat Ibu membangunkanku, kakak, ayah juga kakekku. Saat matahari mulai naik kepermukaan, cucian yang masih berada di ember pakaian kotor direndam terlebih dahulu dengan air untuk kemudian dicuci di dalam mesin cuci.  

Tak sampai di situ saja, Ibu masih harus menjemur, memasak, membersihkan rumah, serta memandikan kakekku yang memang sudah tidak bisa lagi berjalan ke kamar mandi dilanjut dengan mencuci perlengkapan masak. Walaupun aku dan Kakak juga bergantian untuk membantu meringankan pekerjaan Ibu di rumah, namun tetap saja yang paling banyak berkontribusi untuk kenyamanan dan kebersihan di rumah tetaplah Ibu.

Sewaktu aku dan Kakak saya kecil tentu Ibu lebih merasa kerepotan dan kewalahan mengurus keperluan rumah serta keperluan anggota keluarga. Aku dan kedua Kakakku hanya selisih 2 tahun saja, dan kebetulan Kakakku kembar sehingga intensitas untuk lebih lelahnya meningkat dua kali lipat karena keaktifan sang anak. Belum lagi Ibu juga harus mengajari anak- anaknya untuk mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) yang diberikan dari sekolah pada waktu itu.

Apakah Ibu mengeluh dengan semua hal yang melelahkan itu? jawabannya adalah tidak. Beliau dengan ikhlas dan senang hati melakukan semua itu secara rutin. Setiap hari tiada kata rehat di kamus seorang Ibu. Kebiasaan- kebiasaan yang pada awalnya melelahkan itu lama kelamaan sudah menjadi suatu pekerjaan baginya. Pekerjaan yang seperti saya katakan sebelumnya, banyak dianggap enteng dandiremehkan oleh oknum- oknum tertentu yang pada kenyataannya itu tidaklah benar.

Jika berbicara soal pandangan/ ungkapan yang mengatakan bahwa “percuma sekolah tinggi- tinggi kalau ujung- ujungnya cuma jadi Ibu rumah tangga aja”, saya rasa itu sangat tidak relateable dengan realita yang ada. Ibu saya termasuk seseorang dengan trcak record pendidikan serta nilai akademik yang baik. Sejak SMP hingga SMA, Ibu bersekolah di salah satu sekolah yang bisa dikatakan termasuk 5 besar sekolah terbaik se- Jogja. Kemudian Ibu melanjutkan untuk kuliah di salah satu Universitas  di Jogja kemudian bekerja di salah perusahaan swasta. Namun pada saat Ibu melahirkan Kakakku, beliau memilih untuk keluar dari pekerjaannya dan fokus untuk merawat anak- anaknya dan mengembangkan diri di rumah.

Beliau bilang bahwa menjadi seorang Ibu rumah tangga bukan berarti Ia harus selesai untuk belajar. Seorang Ibu rumah tangga tentu harus memiliki kecerdasan intelektual juga sebab ia adalah madrasah pertama bagi anak- anaknya. Belajar juga sebenarnya tidak hanya soal duduk di kursi kelas saja, namun belajar bisa melalui mana saja dan dengan siapa saja.

Akhir kata, Aku percaya bahwa tak ada yang salah dengan menjadi seorang Ibu rumah tangga atau seorang Ibu pekerja. Itu adalah pilihan hidup masing- masing Ibu yang tentu sudah didiskusikan dengan pasangan masing- masing. Namun yang perlu saya tekankan lagi adalah bahwa menjadi seorang Ibu rumah tangga tidak semudah dan tidak sesepele itu, seperti halnya seseorang yang bekerja di kantor, dengan menjadi seorang Ibu rumah tangga berarti seseorang juga harus merelakan tenaga serta pikirannya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan 1: Untuk Merayakan Hari Perempuan Sedunia!

Manusia jika saling berbuat baik, aku rasa di dunia ini akan penuh dengan cinta dan kemakmuran. Perempuan- perempuan bebas untuk menaklukkan dunia dengan caranya, perempuan- perempuan akan dengan bebas berpetualang tanpa menyimpan ketakutan. Rasanya kemarin aku masih cukup takut untuk melakukan perjalanan- perjalanan panjang dengan kesendirian, namun sekarang aku percaya, bahwa sendiri bukan berarti sepi.  Menemukan orang baru dengan kebaikan- kebaikan tak terpikirkan sebelumnya yang ternyata aku dapatkan selama di perjalanan. Bertemu dengan seorang perempuan muda di gerbong kereta yang sama dan dengan tujuan yang sama pula. Turun di waktu pukul 03.00 pagi, kami memutuskan untuk istirahat sebentar di stasiun sembari menunggu langit mulai sedikit terang. Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan masing- masing. Sebelum kami berpamitan, ia memberiku satu bungkus better jumbo, “Ini Mbak, untuk nahan laper”, katanya.  Jalan keluar stasiun, aku kesulitan untuk mendapatkan ojek online...

Menyulam Rupa Masa Lampau: Pasar Lawas dan Wujud- Wujud Perawatan Kultural

Dalam gemerlap modernitas, manusia kerap merindukan ruang- ruang yang mampu menghadirkan kehangatan masa lampau. Ruang semacam itu tak hanya memberikan sebuah pengalaman estetis, tetapi juga menjadi titik perjumpaan identitas kolektif yang seringkali terlupakan. Kehadiran Pasar Lawas bertajuk “ Kebak Tanpa Luber” lahir dengan pemaknaan filosofis yang tak lepas dari nafas keseharian masyarakat Jawa yang penuh dengan keramaian dan rasa hangat ketika berkumpul serta menjaganya agar tetap harmoni. Ia hidup, ramai dan penuh, namun tetap pada porsinya yang damai dan terkendali. Momen ini tentu menawarkan lanskap- lanskap nostalgia, kebersamaan dan bukti keberadaan warisan budaya yang tak akan pudar ditelan zaman. Pasar Lawas tak sekadar menghadirkan kuliner dan permainan tradisional. Ia menjadi ruang sosial yang menegosiasikan ingatan kolektif dengan realitas modernitas. Di balik semaraknya pertunjukan seni, tawa anak-anak yang memainkan dolanan tradisional, hingga interaksi hangat antar-pen...

Surat untuk Jendral

Teruntuk Jendral Baskara, aku mendeklarasikan perasaanku yang sudah sedari lama jatuh padamu. Meski aku sadar dan paham bahwa pada akhirnya kecewalah yang akan aku dapatkan. Kamu pernah berkata bahwa mencintaimu adalah sebuah kesia-siaan, karena pada akhirnya tak kan mampu perasaanku ini menembus dinding pertahanan hatimu.  Kamu salah Jendral. Aku ngga merasa bahwa ini adalah sebuah kesia- siaan. Perasaan yang aku miliki adalah tanggung jawabku, begitu pula dengan perasaanmu. Aku mencintaimu, dan kamu ngga berhak untuk melarangku. Perihal balasanmu, aku pun ngga berhak untuk memaksakannya.  Pada akhirnya nanti, jika memang sama sekali tak pernah ada dirimu berniat untuk mencoba membuka hatimu untukku, tolong jangan memaksaku untuk berhenti. Berhenti berjuang atas perasaan yang sudah lama kupendam ini. Jangan pernah memaksaku untuk melupakan kamu beserta semua kenangan kita. Namun sekali ini saja, tak bisakah kamu sedikit membalas perasaan ini? Walau pun itu hanya s...