Langsung ke konten utama

Terima Kasih, Senja

Untuk Senja Lintang Permata

Terima Kasih sebab kamu sudah memilih namaku untuk diletakkan pada ruang hatimu. Senja kamu tahu, sejak mengenalmu aku sama sekali tidak merasakan sebuah kepahitan, sebab senyum manis yang selalu kau tujukan kepadaku sudah cukup untuk membuatku bahagia. Semua hal yang sudah kita lewati tak lepas dari peranmu yang selalu bisa membuatku merasakan kenyamanan. Kenyamanan yang membuatku selalu saja ingin hadirmu di sisiku. 

Senja, maaf jika caraku bertindak atasmu membuat perasaan cinta dalam dirimu perlahan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu. Seperti yang kamu tulis di suratmu, bahwa perasaan kita adalah satu hal yang tidak bisa kita kontrol ada dan hilangnya. Ia bisa timbul hanya karena perlakuan, namun bisa juga menghilang tanpa perlu kita hilangkan. 

Senja, aku tak akan memintamu untuk berhenti mencintaiku. Aku hanya minta agar kamu jangan berusaha untuk menghilang. Aku tahu mungkin ini terkesan bagai sebuah keegosian, namun bukankah kamu juga menginginkan kita bisa terus bersama? 

Untuk kali pertama, aku merasa bersalah. Bersalah atas perasaanku yang hingga saat ini selalu berkata bahwa kamu dan aku hanyalah sebatas sahabat, tak lebih Senja. Aku sudah berusaha untuk membalas rasamu, namun apa daya, kenangan kita berdua pada ingatanku  mengatakan bahwa ini hanyalah moment sepasang sahabat yang tak mungkin menjadi suatu hubungan yang lebih. 

Senja, cinta itu ngga harus berakhir bersama. Bahkan aku pernah mendengar bahwa level tertinggi mencintai seseorang itu adalah mengikhlaskan. Jadi, bisakah kamu mengikhlaskan perasaan cintamu kepadaku? Kita tak harus bersama sebagai sepasang kekasih, namun menjadi sepasang sahabat seperti yang selama ini telah kita lewati.
—Jendral Baskara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan 1: Untuk Merayakan Hari Perempuan Sedunia!

Manusia jika saling berbuat baik, aku rasa di dunia ini akan penuh dengan cinta dan kemakmuran. Perempuan- perempuan bebas untuk menaklukkan dunia dengan caranya, perempuan- perempuan akan dengan bebas berpetualang tanpa menyimpan ketakutan. Rasanya kemarin aku masih cukup takut untuk melakukan perjalanan- perjalanan panjang dengan kesendirian, namun sekarang aku percaya, bahwa sendiri bukan berarti sepi.  Menemukan orang baru dengan kebaikan- kebaikan tak terpikirkan sebelumnya yang ternyata aku dapatkan selama di perjalanan. Bertemu dengan seorang perempuan muda di gerbong kereta yang sama dan dengan tujuan yang sama pula. Turun di waktu pukul 03.00 pagi, kami memutuskan untuk istirahat sebentar di stasiun sembari menunggu langit mulai sedikit terang. Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan masing- masing. Sebelum kami berpamitan, ia memberiku satu bungkus better jumbo, “Ini Mbak, untuk nahan laper”, katanya.  Jalan keluar stasiun, aku kesulitan untuk mendapatkan ojek online...

Menyulam Rupa Masa Lampau: Pasar Lawas dan Wujud- Wujud Perawatan Kultural

Dalam gemerlap modernitas, manusia kerap merindukan ruang- ruang yang mampu menghadirkan kehangatan masa lampau. Ruang semacam itu tak hanya memberikan sebuah pengalaman estetis, tetapi juga menjadi titik perjumpaan identitas kolektif yang seringkali terlupakan. Kehadiran Pasar Lawas bertajuk “ Kebak Tanpa Luber” lahir dengan pemaknaan filosofis yang tak lepas dari nafas keseharian masyarakat Jawa yang penuh dengan keramaian dan rasa hangat ketika berkumpul serta menjaganya agar tetap harmoni. Ia hidup, ramai dan penuh, namun tetap pada porsinya yang damai dan terkendali. Momen ini tentu menawarkan lanskap- lanskap nostalgia, kebersamaan dan bukti keberadaan warisan budaya yang tak akan pudar ditelan zaman. Pasar Lawas tak sekadar menghadirkan kuliner dan permainan tradisional. Ia menjadi ruang sosial yang menegosiasikan ingatan kolektif dengan realitas modernitas. Di balik semaraknya pertunjukan seni, tawa anak-anak yang memainkan dolanan tradisional, hingga interaksi hangat antar-pen...

Jakarta Kota

 #catatanperjalanan Hingar bingar Kota Metropolitan yang sebelumnya hanya terbayang dalam pikiran, sekarang sudah tergambar jelas dalam pandangan. Cerita- cerita tentang Jakarta yang cukup sering aku temukan dalam bacaan dan tontonan, sekarang sudah bisa kurasakan sendiri rasanya. Pada gemerlap lampu jalanan, bising kendaraan dan gelapnya langit malam, masih cukup banyak kutemukan beberapa aktivitas manusia di dalamnya, bahkan hingga pukul duabelas malam. Angkringan dan warung- warung dalam tenda masih ramai pembeli, dengan hiburan live musik maupun yang terputar melalui kaset atau youtube yang disambungkan melalui bluetooth ke pengeras suara. Suasana baru yang tentu baru pertama kali ini kutemukan di Kota Jakarta. Tengah malam kala itu, tak hanya diisi oleh manusia yang bersiap untuk istirahat, namun diisi pula oleh kalangan manusia yang justru menunggu malam yang membawa secercah harapan penghasilan. “ Tahu bulat digoreng dadakan, limaratusan…..” Suara abang- abang tahu bulat dal...