Langsung ke konten utama

EVANESCENT

     
    Kehilangan. Bukan berarti selamanya tergantikan. Bukan berarti selamanya menderita. Bukan berarti selamanya terlupakan. Adakalanya kehilangan adalah tujuan terbaik dari tuhan untuk menjadikan hati lebih kuat. Adakalanya kehilangan akan menjadikan seseorang tumbuh lebih dewasa. 
     Aku selalu menganggap bahwa kehilangan seseorang itu bukanlah akhir dari kehidupan. Namun kehilangannya kujadikan sebagai jeda dari pada seribu bahkan berjuta kata kasih pun sayang yang sudah lama menemani hari. 
     Ia hilang, namun bukan berarti aku harus ikut menghilang dari semesta dan segala keindahanya. Ia menghilang, tak lantas menjadikanku menyerah akan segala mimpi yang pernah ku rencanakan dengannya juga dengan diriku sendiri. Ia hilang, bukan menjadi suatu alasan untuk aku menyerah kepada kehidupan.
     Hilang manusianya, bukan berarti hilang kenangannya. Hilang raganya, bukan berarti hilang jiwa dan rasanya. Terkadang, memutuskan untuk pergi dan tak mengabari bukanlah suatu pilihan yang buruk. Seseorang berhak memutuskan mau bagaimana ia menghindar dari seseorang yang ia cintai lebih dari pada dirinya sendiri. Bukan berarti ia membenci, namun untuk mempersiapkan diri menjadi sosok yang lebih baik lagi.

- Bantul, 20 April 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan 1: Untuk Merayakan Hari Perempuan Sedunia!

Manusia jika saling berbuat baik, aku rasa di dunia ini akan penuh dengan cinta dan kemakmuran. Perempuan- perempuan bebas untuk menaklukkan dunia dengan caranya, perempuan- perempuan akan dengan bebas berpetualang tanpa menyimpan ketakutan. Rasanya kemarin aku masih cukup takut untuk melakukan perjalanan- perjalanan panjang dengan kesendirian, namun sekarang aku percaya, bahwa sendiri bukan berarti sepi.  Menemukan orang baru dengan kebaikan- kebaikan tak terpikirkan sebelumnya yang ternyata aku dapatkan selama di perjalanan. Bertemu dengan seorang perempuan muda di gerbong kereta yang sama dan dengan tujuan yang sama pula. Turun di waktu pukul 03.00 pagi, kami memutuskan untuk istirahat sebentar di stasiun sembari menunggu langit mulai sedikit terang. Setelahnya, kami melanjutkan perjalanan masing- masing. Sebelum kami berpamitan, ia memberiku satu bungkus better jumbo, “Ini Mbak, untuk nahan laper”, katanya.  Jalan keluar stasiun, aku kesulitan untuk mendapatkan ojek online...

Menyulam Rupa Masa Lampau: Pasar Lawas dan Wujud- Wujud Perawatan Kultural

Dalam gemerlap modernitas, manusia kerap merindukan ruang- ruang yang mampu menghadirkan kehangatan masa lampau. Ruang semacam itu tak hanya memberikan sebuah pengalaman estetis, tetapi juga menjadi titik perjumpaan identitas kolektif yang seringkali terlupakan. Kehadiran Pasar Lawas bertajuk “ Kebak Tanpa Luber” lahir dengan pemaknaan filosofis yang tak lepas dari nafas keseharian masyarakat Jawa yang penuh dengan keramaian dan rasa hangat ketika berkumpul serta menjaganya agar tetap harmoni. Ia hidup, ramai dan penuh, namun tetap pada porsinya yang damai dan terkendali. Momen ini tentu menawarkan lanskap- lanskap nostalgia, kebersamaan dan bukti keberadaan warisan budaya yang tak akan pudar ditelan zaman. Pasar Lawas tak sekadar menghadirkan kuliner dan permainan tradisional. Ia menjadi ruang sosial yang menegosiasikan ingatan kolektif dengan realitas modernitas. Di balik semaraknya pertunjukan seni, tawa anak-anak yang memainkan dolanan tradisional, hingga interaksi hangat antar-pen...

Jakarta Kota

 #catatanperjalanan Hingar bingar Kota Metropolitan yang sebelumnya hanya terbayang dalam pikiran, sekarang sudah tergambar jelas dalam pandangan. Cerita- cerita tentang Jakarta yang cukup sering aku temukan dalam bacaan dan tontonan, sekarang sudah bisa kurasakan sendiri rasanya. Pada gemerlap lampu jalanan, bising kendaraan dan gelapnya langit malam, masih cukup banyak kutemukan beberapa aktivitas manusia di dalamnya, bahkan hingga pukul duabelas malam. Angkringan dan warung- warung dalam tenda masih ramai pembeli, dengan hiburan live musik maupun yang terputar melalui kaset atau youtube yang disambungkan melalui bluetooth ke pengeras suara. Suasana baru yang tentu baru pertama kali ini kutemukan di Kota Jakarta. Tengah malam kala itu, tak hanya diisi oleh manusia yang bersiap untuk istirahat, namun diisi pula oleh kalangan manusia yang justru menunggu malam yang membawa secercah harapan penghasilan. “ Tahu bulat digoreng dadakan, limaratusan…..” Suara abang- abang tahu bulat dal...